Tersebar, dan Rawan

Pasien COVID-19 yang Isoman

 Tersebar, dan Rawan Pasien COVID-19 yang Isoman

Nurmin Baso.(dok)

TANJUNG REDEB, NOMORSATU UTARA– Pasien COVID-19 isolasi mandiri (isoman) tersebar semua kecamatan. Jumlahnya tak sedikit, 1.357 orang. Tentu rawan bagi warga yang sehat, jika mereka tak benar-benar isoman alias berkeliaran.

Dari total pasien 1.520 pasien, kurang dari 200 orang dirawat di Ruang Isolasi RSUD dr Abdul Rivai Tanjung Redeb dan Rumah Sakit Darurat COVID-19. Sisanya, melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, hotel atau indekos.

Tak akan ada yang bisa memastikan bahwa yang pasien isoman itu tetap berdiam diri di rumah ataupun kelayapan. Hal itu diungkapkan Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Nurmin Baso.

Potensi penularan masih sangat besar. Tak ada yang bisa menjamin, bahwa orang yang ditemui tidak terpapar COVID-19.

Walaupun, secara klinis kondisinya tampak terlihat sangat sehat, itu dikarenakan, virus corona tidak melulu memunculkan gejala. Apalagi, jika tidak mendapat inang yang cocok.

“Mereka ada di sekitar kita. Bisa saja, Dia adalah orang yang ada di sebelah kita. Tidak tahukan siapa yang positif atau yang negatif. Kecuali, sudah masuk ruang isolasi,” ujarnya kepada Disway Berau.

Harus ada upaya nyata dari masyarakat untuk memutus rantai penularannya. Bukan dengan tidak beraktivitas di luar rumah. Tapi mengurangi mobilitas yang tidak perlu.

Bukan dengan menjadi masif untuk bekerja. Tapi dengan melaksanakan protokol kesehatan.

“Bukan berarti tidak boleh belanja atau beli makanan di warung. Boleh saja, tapi harus makan di rumah,” katanya.

Persoalan siapa positif dan negatif di Berau memang sulit untuk ditebak. Penambahan jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Bumi Batiwakkal, melonjak naik.

“Seperti tidak ada rem,” imbuhnya.

Khawatirnya, jika lonjakan pasien tak kunjung melandai. Semua fasilitas kesehatan bisa kewalahan. Bukan hanya untuk melakukan tracing. Tapi, untuk memberikan pelayanan ke pasien umum lainnya.

“Ya mungkin karena sudah terlampau lelah dengan keadaan. Setiap hari ngurusi COVID-19. Dan waktu istirahat kurang,” bebernya.

Saat ini saja, di ruang isolasi RSUD dr Abdul Rivai ada 101 pasien yang dirawat. Dari tiga ruangan. Anggrek, Dahlia dan Teratai, hanya tersisa 4 tempat tidur untuk pasien.

“Di IGD COVID-19 ada 4 pasien, ICU dengan ventilator ada 6 pasien, dan tanpa ventilator ada 40 pasien,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi menyebutkan, penambahan kasus terkonfirmasi COVID-19 di Berau, kali ini. Hampir menyamai dengan rilis sebelumnya.

“Hari ini (kemarin) ada 220 kasus tambahan, dan ada 9 yang meninggal,” katanya.

Lagi-lagi, rilis ini didominasi oleh klaster transmisi lokal. Dan ada juga dari klaster Buyung-buyung, Jabontara, serta klaster keluarga.

BACA JUGA  UMKM Penyokong Ekonomi Mikro

“Artinya ini, kesadaran masih minim. Saya tidak tahu lagi harus berkata seperti apa,” tandasnya.

IMUN KUAT, ANAK-ANAK RENTAN

Iswahyudi menuturkan, jika anak di bawah usia 12 tahun memiliki imun yang kuat. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa terpapar COVID-19. Hal ini tidak lepas dari peran orangtua.

Ditegaskannya, penularan COVID-19 terhadap anak, mayoritas berasal dari klaster keluarga. Misalnya, seorang ayah yang terpapar, namun tidak menyadarinya langsung memeluk dan mencium anaknya. Setelah gejala muncul, baru sadar dan terkonfirmasi. Namun itu terlambat, karena sudah kontak erat dengan sang anak.

Pasien COVID-19 yang telah dan sedang menjalani perawatan untuk usia di bawah 18 tahun lebih dari 100 kasus. Sedangkan untuk anak SD di bawah 12 tahun masih sedikit yang terpapar.

“Datanya ada, tapi belum kelar memilah. Kita belum bisa memperkirakan berapa persennya. Karena masih pendataan. Anak di atas 15 tahun itu yang bengal, sedang mencari jati diri,” katanya, Kamis (5/8).

Lanjutnya, ada beberapa cara untuk mengantisipasi agar anak tidak ikut tertular, apabila orangtua sakit. Salah satunya adanya cepat sadar jika sakit, dan selalu pakai masker. Menjauh dari anak. Jangan sampai orangtua yang sakit tapi tidak peduli. Suatu saat jika makin parah, kemudian tes dan positif, sang anak sudah terlanjur kena.

“Jangan selalu berpikiran lain. Misalnya Dia batuk pilek, jangan beranggapan tidak apa-apa. Karena takut dibilang COVID, tetap saja dekat anak dan cium anak. Tapi pada saat flu, sebaiknya langsung pakai masker,” sambungnya.

Menurutnya, dari segi kesehatan anak-anak tidak rentan terkena. Justru orang dewasa yang banyak beraktivitas di luar rumah yang lebih rentan. Tingkat keparahan anak-anak itu ringan, karena memiliki imun yang tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan ada gejala berat.

“Karena anak-anak tidak memiliki pikiran macam-macam. Itu yang membuat imunnya tinggi. Sedangkan kita yang dewasa, begitu kena sudah kepikiran macam-macam,” tuturnya.

Ditambahkannya, terkait dengan vaksinasi untuk anak. Pihaknya belum menerima arahan untuk memberi vaksin kepada anak yang berusia di bawah 12 tahun. Tetapi vaksin anak di atas 12 tahun saat ini sudah berjalan.

“Karena vaksinnya belum ada. Kami lebih selektif dalam memilih, misal ada anak yang sekolah atau masuk pesantren itu yang kami dulukan. Jumlahnya baru 24 anak berusia 12-17 tahun yang divaksin. Pada dasarnya sudah boleh,” pungkasnya.FST/*ZUH/APP

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: