Terdampak PPKM

 Terdampak PPKM

Okupansi hotel turun sekira 50 persen, semenjak meningkatnya kasus COVID-19. Ditambah adanya PPKM. Selain itu restoran juga ikut terdampak. (dok)

PEMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, yang diperpanjang hingga 2 Agustus, membuat pengusaha hotel dan restoran di Kabupaten Berau, harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Berau, Yozzy mengaku, sepinya pengunjung membuat penghasilan pengusaha hotel dan restoran di Bumi Batiwakkal terus merosot.

“Tentu rugi banyak,” imbuh Yozzy, Selasa (27/7).

Kendati Yozzy tidak terlalu berkomentar terkait hotel, namun untuk restoran Dia mengaku, banyak keluhan dari para pemilik usaha. Sehingga harus memutar otak untuk memikirkan cara agar resto di Berau, tetap hidup.

“Saya rasa keputusan yang diberikan pemerintah tidak seharusnya diberlakukan di 13 Kecamatan,” bebernya.

Lanjutnya, pemerintah masih terlalu abu-abu untuk memberikan batasan tertentu. Sebab, di masing-masing kecamatan kondisinya berbeda sekali.

“Saya kira semua peraturan itu dipertimbangkan sesuai kondisi, daripada harus serentak dengan peraturan yang sama,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Harian PHRI Berau, Dede Anugrah yang juga General Manager Grand Parama Hotel, menjelaskan kondisi hotel saat ini masih harus bekerja keras.

“Iya, ada penurunan okupansi rerata hotel-hotel di Berau sebanyak 50 persen. Yang tidak bisa bertahan terpaksa masih ada yang tutup,” jelasnya.

BACA JUGA  Soal BSU, BPJS Ketenagakerjaan Tunggu Instruksi

Saat ini, diakui Dede, permintaan kamar memang cenderung ada, tetapi bagi mereka yang menginginkan untuk isoman setelah perjalanan. Tentu menurut Dede, hal ini susah, karena tidak semua hotel bisa menerima pasien isoman.

“Tidak ada fasilitas pemerintah yang menjamin dan kami tidak mau mengambil risiko,” paparnya.

Lanjutnya, stigma masyarakat, apabila hotel tersebut telah menerima pasien isoman, tentu akan jelek, masyarakat tentu khawatir jika masih tertinggal virus tersebut di hotel. Karena, tidak semua masyarakat paham akan situasi ini.

“Kalau hotel-hotel yang maih sanggup survive pasti tidak mau menerima pasien isoman, karena berisiko sekali,” ungkapnya.

Menurut Dede, saat ini pemerintah jika tidak memfasilitasi untuk hotel, lebih baik memberikan kesempatan pada sejumlah rumah makan untuk bekerja sama.

“Ya misalkan rumah makan, sampai PKL itu saling sinergi lah, direkrut untuk katering isoman pasien, kan lebih terbantu,” pungkasnya. FST/ZZA/APP

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: