Tak Ada Pasien Di-COVID-kan, Ini Kronologinya

 Tak Ada Pasien Di-COVID-kan, Ini Kronologinya

Pasien yang meninggal dan dibawa pulang oleh keluarga, meski hasil PCR-nya positif COVID-19. (fery setiawan)

TANJUNG REDEB, NOMORSATU UTARA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, memberikan keterangan lengkap, terkait meninggalnya pasien berinisial S (70) warga Kampung Suaran, yang dinyatakan terpapar COVID-19, dan nekat dibawa pulang oleh keluarga.

Pada awalnya, diungkapkan Humas RSUD dr Abdul Rivai, Erva Anggriana, pada 3 Agustus, pasien masuk triase IGD umum sekira pukul 20.43 Wita, dengan keluhan sesak 3 hari, mual, muntah, demam dan batuk pilek.

Pasien juga memiliki komorbid hipertensi dan pembengkakan jantung. Perlu diketahui, tegas Erva, bahwa yang lebih rentan dan lebih berat gejala COVID-nya adalah yg mempunyai penyakit bawaan. Seperti strok, diabetes, jantung, tekanan darah tinggi, kanker, penyakit ginjal , paru-paru dll.

Pada pemeriksaan fisik pasien, didapatkan tensi awal datang 90/60 mmHg, nadi 91 x/menit, suhu 37,5⁰C (demam), napas 28x per menit dan saturasi oksigen 56 persen (rendah).

“Pada pemeriksaan fisik terdapat bunyi napas tambahan, berupa rhonki dan nyeri tekan epigastrium (ulu hati). Diagnosa sementara sepsis + probably COVID-19,” ujar Erva dalam keterangan tertulisnya.

Lanjutnya, tindakan yang diambil oleh dokter IGD, pemeriksaan penunjang DL, GDS, UR/CR, OT/PT, rapid antibodi, dan planning PCR. Untuk terapi diberikan oksigen, infus, serta obat injeksi. Pasien juga dikonsulkan ke dokter spesialis paru. Setelah diberikan oksigen saturasi oksigen meningkat menjadi SpO2 81%.

Kemudian, berdasarkan hasil pemeriksaan darah, didapatkan hasil peningkatan jumlah sel darah putih (12.100 cell/cmm, peningkatan fungsi ginjal (ureum 209 mg/dl dan kreatinin 6,02 mg/dl) dan juga fungsi hati (SGOT = 65 u/l dan SGPT = 31 U/l).
“Rapid antibodi negatif, namun hal ini bisa saja negatif palsu karena itu harus dikonfirmasi dengan PCR kembali,” tegasnya.

RSUD mengambil tindakan swab PCR, dikatakan Erva keesokan harinya pada 4 Agustus, dan pasien dirawat di ruang isolasi IGD. Sambil menunggu hasil PCR. Pasien sudah mendapatkan pengobatan, dan pemberian oksigen dengan NRM dan tindakan lainnya

Hasil PCR, keluar pada 5 Agustus, ada pemberitahuan dari klinik swasta melalui dokter penanggung jawab laboratorium, di mana hasilnya Positif. Namun, informasi yang didapat oleh dokter IGD masih dalam format pesan di telepon genggam, belum dalam bentuk tertulis di kertas, dan hasilnya jyga masih dalam bentuk file excel yang terdiri dari beberapa hasil pemeriksaan pasien lainnya.

“Tidak mungkin kami menunjukkan dalam bentuk format excel itu kepada keluarga, karena banyak nama pasien lain di sana yang harus kita simpan kerahasiaannya,” jelas Erva.

Namun dokter jaga IGD yang bertugas tetap melakukan KIE, sekira pukul 22.00 Wita, walau hasil dalam bentuk tertulis belum dikeluarkan. Hal itu dilakukan agar keluarga pasien paham, bahwa pasien akan diberlakukan penanganan sesuai protokol COVID, terlebih lagi kondisi pasien semakin buruk dengan SpO2 58%. Pada saat itu, keluarga tidak percaya hasil PCR, karena belum dalam bentuk tertulis.

“Pihak RSUD dr Abd Rivai tidak pernah meng-COVID-kan pasien yang dirawat. Semua yang dinyatakan COVID berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik hingga ditunjang dengan pemeriksaan penunjang berupa swab antigen ataupun PCR,” tegas Erva.

BACA JUGA  Terancam Hukuman Mati

Diungkapkan Erva, sering kali pasien masuk dengan penyakit tertentu namun setelah dilihat dalam perjalanannya, sesuai protokol yang pihaknya lakukan pemeriksaan rapid atau swab sebagai screening agar saat dimasukkan dalam kamar perawatan di ruangan yang tepat, tidak tercampur antara yang COVID dengan tidak COVID.

“Pasien diletakkan di ruang isolasi khusus IGD, tapi tetap ada kesulitan kami, menyaring pendamping yang keluar masuk. Jika sudah diedukasi bahwa pasien tersebut menderita COVID-19 namun keluarga pasien tidak mau mengerti, itu sudah di luar kehendak kami,” tuturnya.

Meski sudah diedukasi pasien terpapar COVID, seharusnya keluarga paham bahwa tidak bisa keluar masuk seperti mendampingi pasien non COVID yang lain. Karena pihaknya juga tidak mampu menjaga, dan menyaring kunjungan keluarga pasien 24 jam, apalagi pasien yang ditangani tidak hanya 1 orang. Banyak juga pasien lain yang sesak dan gawat.

“Jika sudah ditegur beberapa kali namun diindahkan, jangan menyalahkan kami yang bertugas,” tegasnya.
“Kalau dikatakan oleh keluarga pasien kami tidak menggunakan APD, semua crew IGD dilengkapi dengan APD level 2. Ingat APD ada beberapa level, dari level 1 hingga level 4. Tidak mungkin kami mau mengorbankan diri kami dan keluarga jika tidak menggunakan APD.

Risiko besar menghadang jika tidak menggunakan APD terutama masker dan gown, karena penularannya melalui droplet dan aerosol,” bebernya.

Selanjutnya, pasien dinyatakan meninggal pada 6 Agustus, pukul 16.55 Wita. Keluarga meminta hasil tertulis PCR, dan dikopikan oleh perawat. Selesai salinan diserahkan, tapi saat itu pasien sudah meninggal sehingga mereka mengira di-COVID-kan. Dan keluarga mau membawa pulang paksa jenazahnya. Karena tidak terima pasien dinyatakan COVID-19.

Keluarga pasien kemudian ribut, dan mengintimidasi petugas, karena pada dasarnya keluarga tidak percaya dengan hasil pemeriksaan PCR benar adanya. Sudah diedukasi tim di IGD, dan lanjut dimediasi oleh Tim Surveilens RSUD, tapi keluarga pasien tetap mengamuk. Pasien dibawa paksa atas permintaan keluarga pasien, dan pihaknya diposisikan dalam kondisi yang serba salah.

Pihaknya tidak memfasilitasi ambulans dari RS, karena jika memfasilitasi sama saja memperbolehkan pemulasaran jenazah di rumah tanpa protokol COVID-19. Jika pasien COVID tidak diperlakukan seperti protokol COVID-19, sama saja pihaknya mendukung untuk menyebarkan virus ini lebih masif lagi. Tak heran jika banyak oknum yang seperti ini, angka kesakitan dan angka kematian akibat kasus semakin tinggi.

“Miris kami melihat kondisi dimana nakes yang bukan hanya berjuang menyelamatkan nyawa banyak pasien, tapi juga dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Difitnah meng-COVID-kan pasien, diintimidasi bahkan diancam. Bukan hanya fisik yang lelah, tapi juga mental ( jiwa) dan batin. Bagaimana nakes bisa memberikan maksimal jika dalam kondisi seperti itu,” pungkasnya. */app

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: