Semua Kembali Bersiap

 Semua Kembali Bersiap

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Rapat Koordinasi Penanggulangan Pandemi saat Nataru dan Penanganan Varian Omicron yang dihelat secara daring, Senin (27/12). Rapat dihadiri kepala daerah tingkat I maupun II.(DARUL/disway).

PEMERINTAH pusat hingga daerah satukan persepsi menghadapi musim libur Natal dan tahun baru serta ancaman varian baru omicron. Pengetatan di pintu masuk antarnegara dan koordinasi yang baik antar lini disebut sebagai kunci.

“Ini pertaruhan betul di masa ini. Karena potensi kerumunan tinggi. Mobilitas masyarakat juga begitu tinggi. Mudah-mudahan bisa kita lalui,” kata Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian saat menutup Rapat Koordinasi Penanggulangan Pandemi saat Nataru dan Penanganan Varian Omicron yang dihelat secara daring, Senin (27/12).

Dia juga berpesan agar tiap-tiap gubernur dan forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) tingkat I saling berkoordinasi dengan seluruh elemen terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Begitu juga kepala daerah tingkat II, diminta memperkuat koordinasi dengan seluruh OPD sampai pada level camat dan kepala desa. Serta berharap agar kepala daerah turun langsung ke lapangan, memastikan penanganan berjalan sebagaimana mestinya.

“Agar apa yang kita sepakati bisa dilaksanakan di lapangan. Itu adalah kuncinya. Koordinasi dan pemantauan di lapangan. Jangan sampai hanya di tingkat rapat saja. Tidak di-follow up ke lapangan,” ujarnya.

Meski begitu, Mendagri memberi kewenangan kepada kepala daerah untuk membuat kebijakan disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing. Dengan bekal pengalaman selama hampir dua tahun menangani pandemik.

“Bapak-ibu sudah punya modal selama setahun lebih. Semoga kita bisa mengeksekusi ini,” tandasnya memberi pesan kepada para kepala daerah yang menghadiri rapat.

Bupati Berau, Sri Juniarsih diwawancara usai menghadiri pertemuan virtual itu, menyebutkan bahwa ada hal-hal yang menjadi catatan penting yang disampaikan Mendagri dan Menkes RI. Yakni tetap selalu waspada mengantisipasi masuknya varian virus baru.

“Sehingga walaupun kita sudah masuk zona hijau, tetap harus memperhatikan beberapa poin,” ungkapnya.

Poin-poin tersebut, pertama, agar seluruh lapisan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan (Prokes) 5 M. Kemudian melakukan pengetatan di pintu masuk datang dan pergi dari dan ke luar negeri.

Menegakkan penerapan aplikasi peduli lindungi di tempat-tempat yang ramai. Lalu PPKM berbasis level dan mikro. Kesiapan rumah sakit dan isoter (isolasi terpusat). Mengintensifkan tracing dan testing. Mempercepat vaksinasi dan percepatan riset varian omicron.

Sri Juniarsih menyebut, saat ini capaian vaksinasi di Kabupaten Berau, sebenarnya telah 83 persen. Namun, katanya, yang dinilai dari sisi capaian nasional yang baru mencapai 72,02 persen.

“Sebenarnya tidak terlalu banyak lagi, karena target yang harus dicapai 75 persen untuk herd Immunity,” imbuhnya.

“Tapi warga tetap harus diingatkan. Natal cukup kondusif beberapa hari ini. Mudah-mudahan menjelang tahun baru pun kita tetap kondusif tetap menjaga protokol kesehatan,” sambungnya.

Lanjut Bupati, Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 kabupaten akan tetap bergerak sampai ke tingkat RT. Untuk mengantisipasi kerumunan.

Menurutnya, saat tahun baru nanti, otoritas tidak menerapkan skema penutupan jalan, melainkan hanya menganjurkan masyarakat tetap berada di rumah.

“Intinya pakai masker karena omicron ini lebih cepat penularan. Tapi tingkat keparahan tidak separah delta. Itu menjadi atensi pusat ke daerah,” tutup Bupati.

BACA JUGA  Proses Tetap Dilanjutkan

Di samping itu, pihaknya akan tetap menyiapkan isolasi terpusat yang sudah digunakan sebelumnya. Berjaga-jaga bila terjadi hal yang tak diinginkan.

PEDE DENGAN PENGALAMAN

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Iswahyudi harap-harap cemas terhadap potensi peningkatan kasus pasca perayaan Natal dan tahun baru seperti yang terjadi sebelumnya.

Menurutnya, pemerintah sudah memiliki modal pengetahuan yang cukup dari pengalaman menangani pandemik COVID-19 dari kondisi biasa sampai yang terberat selama hampir dua tahun.

“Omicron ini kan dari luar negeri. Seperti awalnya virus ini juga dari luar negeri. Cuma pada waktu itu kita tidak paham. Tapi kalau sekarang itu lebih terstruktur,” ujarnya.

Iswahyudi berkata, pemerintah pusat kini sadar benar bahwa penjagaan dari luar negeri menjadi kunci pencegahan penyebaran virus agar tidak meluas ka daerah-daerah.

“Awal dulu pemerintah pusat mendulukan ekonomi, sehingga hanya melakukan pembatasan sekilas sehingga terjadi kebobolan. Artinya COVID-19 itu masuk ke daerah dan sulit untuk dikendalikan.”

“Yang kedua ini secara internasional semua lebih siap menghadapi pertarungan ini, karena selama hampir dua tahun sudah tahu pola-pola penyebaran virus,” jelas Iswahyudi.

Ditambahkannya, bahwa kunci utama untuk Indonesia adalah menjaga pintu masuk. Utamanya pintu masuk resmi seperti bandara, pelabuhan dan sebagainya. Walaupun masih memungkinkan ada pintu masuk tidak resmi.

Kabupaten berau salah satu daerah potensial dimasuki pelancong dari luar negeri. “Sangat mungkin dari Malaysia, Nunukan dan sebagainya. Soalnya jalan jalan tikus juga banyak. Tetapi yang utama sebenarnya perlintasan antar negara,” ia berujar.

Dia berpendapat, bahwa yang terjadi saat ini dalam penanganan varian COVID-19 omicron Jakarta sebagai episentrum awal jauh lebih siap. Begitu ditemukan kasus Satgas langsung melakukan kanalisasi.

“Bahkan kemarin Wisma Atlet dikunci biar virus mati di sana tidak sampai ke daerah. Kuncinya di situ. Kalau selamat di situ. Akan aman lah. Tapi kalau sampai tembus keluar akan sulit dikendalikan.”

Satu sisi, Dia berpandangan, masyarakat sudah lebih siap menghadapi wabah yang tak berujung ini. Kepedulian menerapkan prokes disebut sudah begitu tinggi.

Hal lain yang dijabarkan, ialah kabar baik bahwa Kabupaten Berau sudah 15 hari tanpa kasus positif COVID-19. Ia berharap capaian itu bisa dipertahankan sampai 28 hari berturut-turut. Untuk memperoleh status zona hijau.

Kalau sampai 28 hari atau dua kali masa inkubasi tidak ada kasus, bisa zona hijau. “Karena kan sekarang di pusat kita dihitung sebagai zona kuning artinya kasus rendah tapi masih punya potensi. Kalau zona hijau, 28 hari berturut-turut tidak ada kasus sama sekali. Kita hijau di peta tapi kuning di zona,” tuntasnya. DAS/APP

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: