Jangan Sampai Meluas

Pemkab Ketat Awasi Klaster SMJ

 Jangan Sampai Meluas Pemkab Ketat Awasi Klaster SMJ

GAMALIS. (dok)

TANJUNG REDEB, NOMORSATU UTARA  – Klaster COVID-19 PT Sumber Mitra Jaya (SMJ) di Kecamatan Teluk Bayur, menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau. Tak ingin meluas, antisipasi ketat harus dilakukan

Ditegaskan Wakil Bupati Berau, Gamalis, wabah COVID yang terjadi di PT SMJ akibat sejumlah karyawannya pulang dari luar daerah, harus jadi perhatian. Jangan sampai kata Dia, karena klaster tersebut jadi meluas.

“Ini harus benar-benar ditangani dengan baik dan serius. Jangan sampai, ini menjadi awal penularan COVID-19 di Kabupaten Berau di tahun ini. apalagi sekarang, sudah banyak varian COVID-19 yang semakin berbahaya,” ungkapnya, kemarin.

Untuk itu, dirinya meminta kepada pihak perusahaan, maupun instansi terkait untuk benar-benar melakukan tracing kepada seluruh karyawan agar kasus tersebut tidak meluas sampai keluar lingkungan perusahaan.

“Kalau bisa dicek semua, jangan ada yang lolos. Kami tidak ingin, kasus ini meluas lagi seperti tahun lalu,” jelasnya.

Lebih lanjut kata Gamalis, Berau hampir sebulan tanpa penularan yang membuat Berau berstatus zona hijau di 13 kecamatan. Kini Kecamatan Teluk Bayur, harus berstatus zona merah setelah 10 orang karyawan PT SMJ tertular COVID-19 pada Kamis (13/1). Sementara, pada Jumat (14/1) kemarin, berdasarkan rilis dari Dinkes Berau, pasien COVID-19 dari klaster PT SMJ bertambah 1 orang. Total 11 pasien COVID-19 dari klaster SMJ yang dilakukan perawatan.

Ditegaskan Gamalis lagi, kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi perusahaan-perusahaan lainnya yang beroperasi di Berau. Agar ketika ada karyawannya yang melakukan kunjungan kerja keluar daerah, atau bahkan cuti keluar daerah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

“Prokes itu sudah seperti harga mati. Dan itu harus dilakukan secara disiplin ketika beraktivitas di dalam maupun di luar rumah. Apalagi saat bepergian ke luar daerah, bahkan keluar negeri. Jangan beranggapan, kasus sudah menurun lantas COVID-19 sudah tidak ada,” tuturnya.

Kendati demikian, Forkopimda Berau akan terus berupaya terus mengantisipasi berbagai kemungkinan penularan kasus COVID-19 di Kabupaten Berau. Termasuk penularan yang terjadi saat ini di PT SMJ, juga kata Gamalis akan selalu dipantau oleh instansi teknis, yakni Dinas Kesehatan Berau.

Dirinya juga berpesan, kepada karyawan perusahaan, maupun masyarakat Berau yang ingin melakukan perjalanan keluar daerah, untuk selalu berhati-hati, dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, saat ini tidak hanya COVID-19 yang menjadi ancaman, namun juga varian baru dari virus tersebut, seperti virus delta dan Omicron yang sudah banyak menyebar.

“Semoga saja pasien yang terpapar tersebut segera sembuh, dan tidak ada lagi penularan yang terjadi. Kalau tidak penting, jangan keluar daerah. Sekalipun pun harus keluar daerah, selalu disiplin prokes, untuk mengurangi potensi tertular COVID-19,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Setelah sekira 3 pekan tanpa penularan, pada Kamis (13/1) kemarin, kasus COVID-19 kembali terjadi di Kabupaten Berau. Tak tanggung-tanggung, pasien yang terpapar COVID-19 mencapai 10 orang, yang seluruhnya merupakan karyawan dari PT Sumber Mitra Jaya (SMJ), di Kecamatan Teluk Bayur.

BACA JUGA  Zainal: Jangan Berpikir Materi

Kasus ini, merupakan pertama kalinya di tahun 2022 yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Bahkan, sampel dari pasien COVID-19 tersebut, dikirim ke laboratorium kesehatan di Jakarta, untuk mengantisipasi penularan virus COVID-19 varian baru, yakni Omicron atau sejenisnya.

Kepala Dinkes Berau, Iswahyudi mengatakan, penyebab penularan COVID-19 di PT SMJ, setelah sejumlah karyawannya pulang dari luar daerah, tepatnya dari Jakarta, pada 6 Januari lalu.

“Sepuluh pasien ini merupakan klaster dari PT SMJ. Sebagian mereka ini tertular usai melakukan perjalanan, sebagian lagi tertular karena melakukan kontak erat dari pasien yang baru pulang dari luar daerah,” ungkapnya, kemarin.

Untuk pemeriksaan kesehatan kepada pelaku perjalanan itu, dilakukan pada 3 hari yang lalu, usai para pasien mengalami sakit dan gejala layaknya COVID-19. Setelah dilakukan dilakukan tes, sejumlah karyawan yang pulang dari luar daerah itu dinyatakan positif COVID-19.

Tidak ingin mengambil risiko, pihak perusahaan kemudian melalukan tracing kepada karyawan-karyawan yang berada di sekitar perusahaan. khususnya karyawan yang berada di lingkungan kerja pasien yang terpapar.

“Ada sekitar lebih 40 karyawan yang dilakukan tracing. Namun, hanya 10 orang yang dinyatakan positif COVID-19,” jelasnya.

Ketika disinggung mengenai gejala Omicron terhadap 10 pasien tersebut, Iswahyudi mengatakan, pada dasarnya untuk gejala tidak jauh berbeda dengan gejala virus COVID-19 pada umumnya. Akan tetapi, patut diwaspadai, mengingat di Indonesia virus tersebut sudah mulai banyak menulari masyarakat.

“Sampelnya ini masih kirim ke Jakarta. Hasilnya kami belum tahu bagaimana,” jelasnya.

Lebih lanjut kata dia, pihaknya masih tetap memantau jalannya tracing di PT SMJ. Jangan sampai, ada karyawan yang sempat melakukan kontak erat dengan 10 pasien yang sudah terdeteksi terlewat.

Dirinya juga sudah meminta manajemen perusahaan agar semua karyawannya dapat bersikap jujur, kepada tim medis di sana.

“Kalau ada yang pernah kontak erat dengan pasien atau keluarga pasien dapat segera melaporkan untuk dilakukan tes. Apalagi ini kan sudah jadi klaster, karyawan di sana harus jujur untuk membantu pemerintah daerah dalam mengantisipasi penularan COVID-19 di Berau,” katanya.

Tidak hanya kepada PT SMJ, pihaknya juga meminta kepada masyarakat untuk tetap disiplin protokol kesehatan saat melakukan aktivitas baik di dalam maupun di luar rumah.

“Dengan adanya 10 kasus penularan COVID-19 ini diharapkan untuk meningkatkan prokesnya. Begitu juga dengan masyarakat yang ingin keluar daerah, untuk tetap menjalankan prokes dengan baik,” pungkasnya.ZZA/APP

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: