Jalankan Acara Adat, Bentuk Pelestarian Budaya di Kutim

 Jalankan Acara Adat, Bentuk Pelestarian Budaya di Kutim

Kutim, nomorsatukaltim.com – Acara adat di Kutim hampir dijalankan tiap desa. Bagi Dinas Kebudayaan hal itu adalah bentuk melestarikan budaya yang ada. Bahkan harus dimajukan dengan menjadikan sebuah ikon tahunan.

Upaya tersebut yang kini terus didorong oleh Dinas Kebudayaan. Meskipun masih tergolong baru sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tapi Dinas Kebudayaan memiliki komitmen kuat akan hal itu.

“Di Kutim ini sebenarnya tiap desa punya acara masing-masing. Bagaimana mendorong acara tersebut jadi punya nilai jual saja lagi,” ucap Yusuf Samuel, Kepala Dinas Kebudayaan Kutim.

Ada dua acara adat yang kini rutin digelar saban tahun. Acara adat Lom Plai dan Pelas Tanah. Untuk Lom Plai adalah acara adat suku Dayak, sementara Pelas Tanah dijalankan suku Kutai. Keduanya memiliki makna serupa.

Yaitu wujud dari rasa syukur dan implementasi puncak upaya pelestarian tradisi. Baik untuk suku Kutai dan Dayak. Terlebih budaya tersebut penuh dengan praktik dan ritual antara masyarakat dan alam. Maka wajar jika kedua acara tersebut bisa dijadikan simbol budaya lokal di Kutim.

“Tidak menutup kemungkinan, keduanya dijadikan agenda nasional. Hingga bisa menjadi kunjungan para wisatawan baik domestik maupun internasional,” tuturnya.

BACA JUGA  Angkat Potensi Budaya Kaltara

Upaya seperti itu bukan perkara mudah. Apalagi saat ini pandemi COVID-19 juga jadi sandungan. Selain memangkas anggaran untuk membuat acara tersebut. Dilarangnya membuat acara yang mengumpulkan banyak orang juga jadi penghambat.

Tetapi ia masih optimistis. Rencana kerja pun telah disusun untuk mendorong dua acara adat tersebut bisa jadi agenda tahunan. Namun yang perlu juga diperhatikan menurutnya adalah memperbaiki akses infrastruktur.

“Karena acara seperti ini berjalan di kecamatan yang letaknya jauh dari pusat kota,” bebernya.

Sebab banyak dampak bagi daerah jika bisa melestarikan budaya lokal ini. Selain menjaga tradisi leluhur secara turun temurun, juga bisa menarik minat wisatawan. Tentu akan mendatangkan pendapatan daerah secara tidak langsung.

“Tapi butuh promosi dan dukungan semua pihak untuk mengembangkan potensi wisata berbasis sajian adat

dan budaya tradisional ini,” tandasnya. (bct/boy)

Berita ini telah terbit di Nomorsatukaltim.com, jaringan berita nomorsatuutara.com

Berita Terkait

%d blogger menyukai ini: