Halal-Haram AstraZeneca

 Halal-Haram AstraZeneca

Ilustrasi

VAKSIN AstraZeneca asal Inggris, telah masuk ke Indonesia pada awal Maret lalu. Sebanyak 1,1 juta dosis. Vaksin ini pun telah disalurkan ke beberapa daerah di Indonesia. Namun, status halal-haram vaksin ini masih menjadi pertanyaan di masyarakat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa haram pada produk vaksin AstraZeneca, Jumat (19/3) lalu. MUI memberikan label haram pada vaksin AstraZeneca, karena kandungan tripsin babi pada proses pembuatan vaksin ini.

Meski begitu, MUI memperbolehkan penggunaan vaksin dalam keadaan darurat. Seperti dalam kondisi pandemik seperti sekarang. Karena ketersediaan vaksin COVID-19 yang terbatas.

“Vaksin produk AstraZeneca ini hukumnya haram, karena dalam tahapan proses produksinya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi. Walau demikian, penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca pada saat ini, hukumnya dibolehkan,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam, dalam konferensi pers daring, Jumat (19/3).

Sebenarnya, terjadi perbedaan pendapat di tubuh MUI terkait label halal-haram vaksin AstraZeneca ini. MUI Jawa Timur mengklaim vaksin AstraZeneca halal. Beberapa ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga mendukung penggunaan vaksin AstraZeneca ini.

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan. Pihaknya akan menyosialisasikan penggunaan vaksin AstraZeneca kepada masyarakat. Namun, pemerintah tidak akan memaksakan vaksinasi kepada masyarakat yang menolak vaksin AstraZeneca.

Sementara itu, Kemenkes telah mendistribusikan vaksin AstraZeneca ke beberapa daerah di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kepulauan Riau, Maluku, dan Sulawesi Utara (Sulut).

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Syahranie (AWS), dr. David Hariadi Mashoer mengatakan, vaksin AstraZeneca belum masuk ke wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, tak menutup kemungkinan, dalam waktu dekat, vaksin asal Inggris ini, akan dikirim ke Bumi Etam.

BACA JUGA  Prioritas Pelayan Publik dan Lansia

David pun turut menanggapi terkait pro  kontra halal haram vaksin AstraZeneca. Ia mengaku setuju dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Meski haram, vaksin ini tetap boleh digunakan.

“Saya pun dalam pengalaman sehari-hari untuk pasien dengan serangan jantung ada beberapa obat yang bahannya dari babi. Biasanya kita jelaskan kepada keluarga, boleh tidak? Kebanyakan pasien mau. Karena ini merupakan salah satu ikhtiar,” jelasnya kepada Disway Kaltim, Kamis (25/3).

Begitu pula dengan AstraZeneca. Meski haram, vaksinasi ini merupakan salah satu upaya untuk menghentikan pandemi. Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi ini menyebut. Dalam dunia kesehatan, memang banyak produk obat-obatan yang berasal dari babi. Di Indonesia sendiri, penggunaan obat-obat itu, juga diperbolehkan dalam keadaan darurat.

“Diizinkan hanya utnuk life saving, menyelamatkan nyawa. Sehingga seringkali kita jelaskan ke keluarga. Kalau keluarga tidak setuju, tidak kita berikan,” ungkapnya.

“Dan saat ini kan, kondisi sedang pandemi. Kalau kita tidak vaksin, korban jatuh tambah banyak, ekonomi terhenti. Mudharatnya tambah banyak,” sambungnya.

Mengantisipasi penolakan dari sebagian masyarakat tentang penggunaan vaksin AstraZeneca ini. Menurut David, pihak pemerintah termasuk tenaga kesehatan dan tokoh masyarkat. Perlu menyosialisasi manfaat vaksin dalam upaya menanggulangi pandemi COVID-19.

“Langkah pertama pemeritah dengan menggandeng penjelasan dari MUI itu cukup. Tinggal sosialisasi lagi. Pro kontra biasa dalam kondisi sekarang ini. Yang mengompori juga banyak, itu yang harus diantisipasi,” pungkasnya. Krv/app

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: