Dibuat dari Batok Kelapa dan Botol Bekas

 Dibuat dari Batok Kelapa dan Botol Bekas

Dua gereja di Tanjung Selor membuat pohon Natal unik.(Victor/disway)

TANJUNG SELOR, NOMORSATU UTARA – Natal menjadi momentum yang dinantikan umat Kristiani. Makanya, tidak lengkap tanpa adanya pohon Natal di tengah-tengah keluarga. Apalagi, memasang pohon cemara yang diberi hiasan sebagai dekorasi telah menjadi kebiasaan masyarakat di berbagai negara.

Pohon Natal beragam. Bergantung kreativitas. Bahkan dari bahan yang dapat ditemukan di mana saja. Hasilnya unik. Seperti yang dilakukan umat nasrani di dua gereja yang di Tanjung Selor. Yakni Gereja Pantekosta Serikat Indonesia (GPSI) El Bethel di Jalan Duku dan Gereja Toraja (Getor) Jemaat Sion, Jalan Jeruk, Tanjung Selor. Dibuat dari batok kelapa dan botol bekas.

Wakil Gembala GPSI El Bethel Tanjung Selor, Toberian mengatakan, pohon Natal dari serabut dan batok kelapa itu dibangun setinggi 7 meter oleh para jemaat gereja sejak 17 Desember lalu. “Rangkanya dari besi, tapi bahan lainnya dari serabut dan batok kelapa sebanyak 50 buah,” ungkapnya, Kamis (23/12).

Dijelaskannya, pohon Natal unik ini memiliki pesan dari jemaat GPSI seperti daun dan tempurung kelapa memaknai Natal sebagai kabar sukacita.

“Sukacita dapat menyegarkan yang dahaga. Yang artinya Natal adalah kekuatan Tuhan. Karena Natal mampu menyatukan perbedaan. Natal mampu memulihkan hubungan yang rusak,” jelasnya.

Kemudian, lampu pada pohon Natal dimaknai bukan hanya dirayakan sebagai senang-senang atau maaf memaafkan, tetapi harus dihidupi. “Lampu yang di pohon Natal menandai cahaya harus menerangi jalan agar dapat melihat terang Tuhan,” ujarnya.

BACA JUGA  Penting, Lindungi Kawasan Mangrove

Sementara di Gereja Toraja(Getor) Jemaat Sion, di Jalan Jeruk terdapat pohon Natal unik berbahan 3.000 botol bekas setinggi 10 meter. Jemaat Getor Sion, Septi menerangkan, kerangka lingkar pondasi dan penyangga pohon Natal menggunakan batang kayu pohon pinang. Bintangnya dari besi bekas, dan lingkaran pohon dari ukiran bambu.

“Tutup botolnya juga kita manfaatkan dengan melubangi kemudian diikatkan ke kain pakai tali dan peniti, lalu dililitkan pada kerangka pohon itu,” ujar Septi yang bertanggung jawab atas pembuatan pohon Natal tersebut.

Ia mengatakan, makna kesederhanaan memanfaatkan sesuatu yang sudah dibuang menjadi sesuatu yang bermanfaat melalui pohon Natal daur ulang. Sehingga bisa berbagi keindahan kepada semua orang.

“Ini juga bagian dari keprihatinan jemaat Gereja Toraja terhadap sampah di Tanjung Selor yang semakin hari kian meningkat. Salah satu cara untuk mengurangi volume sampah tersebut dibutuhkan sebuah kreativitas sehingga kami inisiatif membangun dari barang bekas, pemuda Toraja juga ikut membuat pohon Natal itu,” pungkasnya. (vir)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: