Catatan Keberhasilan Lewat Indeks

Muhammad Faisal

 Catatan Keberhasilan Lewat Indeks Muhammad Faisal

Kepala Diskominfo Kaltim, pada perbincangan Ngopi Sore, Kamis (6/12). (Bagus/Diskominfo Kaltim)

Setahun kinerja Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi topik menarik dalam perbincangan Ngopi Sore, Kamis (6/12/2021). Cukup waktu bagi nakhodanya,

Muhammad Faisal selama 2021 untuk beradaptasi dengan lingkungan itu. Lalu merencanakan program untuk sepanjang 2022 ini.

Mengawali tahun, setiap OPD tentu sudah disibukkan dengan berbagai tugas pemerintahan. Begitupun di Diskominfo Kaltim. Faisal mengungkapkan tetap sibuk seperti biasanya. Satu hal yang pasti dikerjakan ialah mempersiapkan perencanaan dan realisasi kegiatan di 2022.

Kemudian juga yang sedang dalam progres ialah laporan evaluasi untuk 2021. Itu penting. “Karena itu bahan kita untuk bekerja yang lebih baik di tahun ini,” ujarnya.

Selebihnya, dinas disibukkan dengan urusan-urusan administrasi. Kata Faisal, yang paling banyak menyedot perhatiannya di awal ini ialah seleksi untuk perpanjangan kerja para honorer dan honorer baru.
Banyak cerita di sepanjang 2021 bagi Faisal. Tentu ada suka dan duka yang menjadi pembelajaran.

Untuk dukanya, ia merincinya menjadi 3 bagian. “Apa ya, ketambahan beban pekerjaan baru yang jelas. Tahun ini kami ketimpa 3 beban,” ungkapnya. Dinasnya ketambahan 3 bidang baru. Yang sudah tentu menambah pekerjaan dan pikiran.

Yang pertama ialah urusan di Bidang Statistika. Bidang ini baru saja ada pada 2021. Menjadi bidang baru. Tentunya ini tantangan lebih. Karena benar-benar baru ada. “Bahkan dibenak saya tidak kepikiran apa itu bidang statistik,” ucap Faisal.

Kedua, dinasnya juga ketambahan urusan kehumasan. Dan yang terakhir Diskominfo Kaltim mendapatkan pengembangan Bidang Persandian.

“Makanya harusnya, bukan Diskominfo lagi namanya. Komunikasi, Informatika, statistika dan persandian. Dan saya juga bingung singkatannya,” katanya.

Namun duka itu tak dianggap sebagai kegagalan. Justru sebaliknya. Merunut bahwa beban itu juga tertuang UU 23/2014 tentang otonomi daerah. Maka dari itu tugas mengurus urusan wajib non pelayanan itu harus ada. Dan bisa diwujudkan.

Kemudian, tantangan yang dihadapi Faisal ini menjadi semakin berarti. Karena selama itu pulalah ia menahkodai OPD Pemprov Kaltim ini. Sejak 4 Desember 2019, ia tidak lagi menjadi pejabat sekelas Pemkot Samarinda.

“Di setahun pertama, konsolidasi, baru mengenal person, jadi itu tantangan. Karena atasan tidak mau tahu.” “Jadi itu semua lebih ke tantangan pribadi, untuk menjadi kapten di kapal ini,” bebernya.

Setahun kepemimpinan Faisal juga sudah dituntut dengan hasil kinerja. Dan buatnya, itu dinilai sebagi rasa suka dalam memimpin organisasi ini.

Selain secara pribadi Faisal mendapatkan temen dan suasana baru. Prestasi itu ia sampaikan terbagi dalam dua garis besar. Secara regional Kaltim dan nasional. “Secara real, saya sudah berhasil mengangkat dibandingkan periode sebelumnya,” akunya.

Tercatat Diskominfo Kaltim mendapatkan penilaian indeks nasional yang baik. Penilaian itu yang menjadi alah satu ukuran standar sebuah kinerja pemerintah.

Indeks monev badan publik pemerintah, tentang keterbukaan informasi publik. Tahun lalu peringkat 8, saat ini 7. “Biarpun naik satu, saya bangga bisa di atas Jogja, Bandung,” ujarnya.

BACA JUGA  Perlu Evaluasi

Indeks keterbukaan informasi publik (IKIP) Kaltim di ranking 9. Masuk 10 besar nasional. “Jadi bangga juga. Karena ini baru pertama kali kita bisa raih,” lanjutnya.

Indikator kinerja utama, sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE). Naik menjadi 2,22 persen dari tahun sebelumnya, 2,14 persen.

Indeks keamanan siber. Tahun-tahun lalu, Kaltim selalu ada di level 1. Saat ini di level 2, dari 5 level yang ada. Di Indonesia sendiri, indikator ini tidak ada yang mencapai level 5. Untuk di kementerian saja level 4.
Lalu indeks kemerdekaan pers. Masuk menjadi ranking 3 nasional. Nah, rasanya ini yang paling membanggakan untuk Faisal.

Bukan bangga saja karena menerima penghargaannya saja. Tapi karena ia bisa menerima piala itu bersama dengan Ridwan Kamil. Mewakili Bandung yang berada pada ranking 2. Sementara Riau ada di peringkat 1.

“Kala itu gubernur sedang berhalangan, maka itu saya beruntung sekali. Ketiban rezeki karena bisa bertemu dengan orang hebat seperti beliau,” katanya.

Mau tak mau, keberhasilan itu harus diakui. Karena menurutnya capaian ini penilaiannya jelas.

“Terlepas dari baik buruk kepemimpinan saya. Tapi kami berhasil naik satu peringkat dari tahun sebelumnya. Semoga tahun depan naik lagi satu tingkat dan terus menjadi yang terbaik,” tegasnya.

*
Meski belum terbuka secara masif, Faisal membocorkan sedikit apa yang akan dilakukan Diskominfo Kaltim di 2022. Usai ia mengunjungi beberapa daerah di Kaltim, satu hal yang ia simpulkan ialah “Masih banyak PR untuk bisa menjadi Kaltim Berdaulat”.

Catatan itu buatnya mendasar. Di samping ia kerap mendengarkan keluhan. Ia juga pernah melihat langsung kondisi di lapangan pada beberapa daerah. Bahwa infrastruktur dasar di Kaltim masih lemah.

Paradigma infrastruktur dasar itu saat ini tak hanya lagi soal aksesbilitas jalan dan perkantoran. “Jadi asal jangan bicara selalu soal jalan, dan gedung. Itu termasuk jaringan. Kalau jaringan tidak ada, maka tidak bisa bicara muluk-muluk dalam pembangunan,” tegasnya.

Nah, di 2022 Diskominfo Kaltim bakal memberanikan diri. Untuk menyuarakan permasalahan ini. Pada para-para leading sector di atas untuk bersama mengatasi itu.

Langkah yang nyata akan dilakukan, dimulai dengan membuka akses internet di wilayah yang belum terpapar jaringan internet. Target 2022 ada 40 desa.

Kabel fiber optik akan ditarik sepanjang yang diperlukan untuk 40 desa itu. Diposisikan bisa sekolah, puskesmas atau tempat pelayanan publik lainnya. Intinya tempat yang bisa dipergunakan warga bersama.

“Lalu kita kasih gratis selama setahun. Keuntungannya, jika akses itu sudah ada, masyarakat desa juga bisa menggunakan itu, menarik jaringan dari sana,” tutup Faisal. (rsy)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: