Bangkitkan Lagi, Luas Tanam Menurun

 Bangkitkan Lagi, Luas Tanam Menurun

Dinas Perkebunan Berau berupaya membangkitkan kembali komoditas kakao. (CHRISTIANTO MANTIRI/DISWAY)

TANJUNG REDEB, NOMORSATU UTARA Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, melalui Dinas Perkebunan berupaya terus membangkitkan komoditas kakao di Bumi Batiwakkal. Adanya peningkatan produksi dan pemasaran, menjadi acuan.

Berdasarkan rekapitulasi luas areal dan produksi komoditas kakao dari Dinas Perkebunan, diketahui lahan kakao di Berau sejak 2020 hanya tersisa 1.253,05 Ha. Sementara, tahun 2013 luas areal lahan yang ditumbuhi kakao masih menyentuh angka 4.057,00 Ha. Data tersebut membuktikan luas areal mengalami penurunan hingga 2.803,95 Ha.

Salah satu wilayah yang terdampak penurunan luas areal komoditas kakao adalah Kampung Tepian Buah, Kecamatan Segah. Diungkapkan Kepala Kampung Tepian Buah, Surya Emi, jumlah luas perkebunan kakao di Kampung Tepian Buah sudah mulai berkurang sejak tahun 2014 lalu. Masyarakat lebih mengutamakan untuk menanam sawit dibandingkan kakao, lantaran potensi sawit disebut lebih baik dan lebih menjanjikan.

“Potensi komoditas sawit di sana lebih baik, karena sangat dekat dengan perusahaan yang memiliki pabrik pengolahan, sehingga lebih mudah dijangkau. Selain itu, untuk petani kakao di Tepian Buah juga lebih kesulitan untuk memasarkan hasil panen kakao itu sendiri. Seiring jalannya waktu para petani kakao sudah jarang ditemui,” ungkap Surya Emi, Sabtu (8/1).

Meskipun lahan perkebunan semakin menipis, hal itu tidak membuat Pemkab Berau berhenti untuk berupaya mengajak para petani agar kembali menggiatkan kakao.

Itu ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, Amran Arief, saat ditemui Rabu (12/1). Dengan mencanangkan program “Gemari Kakao” (Gerakan Mengembangkan Agribisnis Kakao), pihaknya berupaya kembali membangkitkan potensi-potensi komoditas kakao melalui perluasan lahan, rehabilitasi kebun, dan intensifikasi kebun.

BACA JUGA  Peyangga Ekonomi Mikro

“Program itu semacam kolabarasi dengan para stake holder yang ada, sehingga para petani dapat berminat kembali untuk mengembangkan komoditas kakao,” ujar Amran.

Disebutkannya, produk kakao di Kabupaten Berau pada tahun 2021, sudah dipasarkan ke luar negeri, khususnya di Italia dan Filipina. Beberapa negara lainnya juga sudah mulai berminat untuk membeli kakao yang sudah dalam bentuk kakao permentasi.

Melihat potensi dan capaian produk kakao dari Kabupaten Berau ini, turut membuat Dinas Perkebunan semakin serius mengembangkan komoditas kakao di Bumi Batiwakkal. Pihaknya juga akan meminta dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, untuk membantu dalam sarana produktif, baik dari dukungan dana, branding, maupun dukungan lainnya.

“Kami juga akan menyerahkan sertifikasi kakao secara langsung kepada Bupati Berau, Sri Juniarsih. Agar dapat memproduksi buah kakao tiap tahun. Sehingga, dapat selalu meningkat melihat pemasarannya yang jelas sudah ada dan besar,” tambah Amran.

Pihaknya juga melibatkan perusahaan penggiat kakao seperti PT Berau Coal yang telah memiliki pabrik pengolahan kakao sendiri, dan sudah melakukan pemasaran cokelat sendiri. Hal ini tidak menutup kemungkinan di tahun 2022, maupun kedepannya indeks komoditas kakao dapat bangkit kembali.

“Jadi nanti akan coba direalisasikan, baik dalam bentuk buah kakao, cokelat kemasan, produk kakao dengan fermentasi bermutu, dan lain sebagainya. Kami akan lebih utamakan peremajaaan dan indetifikasi pada produksi komoditas kakao ini,” pungkas Amran.*CHR/APP

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: