Bahasa Teknik

 Bahasa Teknik

ILMU teknik itu tidak berpolitik. Pun tidak beragama. Tapi kalau yang ditulis ini tentang teknik baru di stadion baru Jakarta, arahnya bisa ke mana-mana. Tergantung pada yang menggoreng.

Betul. Ini tentang teknik memasang atap stadion internasional di Sunter itu. Di Jakarta Utara. Keseluruhan kerangka atap itu beratnya hampir 4.000 ton. Tepatnya 3.900 ton.

Yang normal, kerangka itu dipasang dengan cara biasa. Dirangkai di atas. Tapi itu akan memakan waktu sampai 6 bulan. Keburu masa jabatan gubernur DKI Jakarta habis.

Kebetulan Real Madrid juga lagi merenovasi stadion. Yang di pusat ibu kota Spanyol itu. Renovasinya agak total. Sampai sekarang belum selesai.

Di sana, atapnya yang baru, juga dirangkai di bawah. Lalu ditarik ke atas. Tapi bukan seluruhnya. Dibagi empat. Masing-masing 800 ton. Empat angkatan itu dirangkai di atas.

Para insinyur di PT Wijaya Karya (BUMN) dan di PT Jakpro (BUMD) membahas itu. Secara keilmuan. Diskusi ilmiah dilaksanakan: mungkinkah kita lebih hebat dari yang di Madrid itu: mengangkat seluruh kerangka atap itu sekaligus.

Kesimpulannya: bisa.

Ini memang belum pernah terjadi. Di seluruh dunia. Mereka pun mengecek di Mega Struktur. Yang biasa menyiarkan proyek-proyek besar yang unik. Belum pernah ada yang seperti itu. Bahkan National Geographic tertarik merekam pelaksanaan ide di stadion Jakarta itu. Dan akan menyiarkan di salurannya.

Dalam diskusi-diskusi teknik itu, yang banyak dibahas adalah: bagaimana caranya.

Konstruksi stadion itu memiliki 8 tiang utama. Bulat. Kokoh. Diameternya 6 meter. Yang tingginya 70 meter.

Di 8 tiang tama itulah seluruh atap akan bertumpu. Tentu masih ada banyak tiang lainnya yang lebih kecil. Yang juga ikut menopang: 64 tiang.

Maka para insinyur itu memilih 8 tiang utama tersebut untuk tumpuan menaikkan atap. Di puncak 8 tiang itu ditambahi kerangka baja setinggi 6 meter. Baja itulah yang menjadi pusat mengerek kerangka atap. Di puncak tiang itu dipasang hidrolis. Untuk menarik ”tali” –yang terbuat dari kawat baja (slink).

Setelah ditemukan cara itu, kerangka atap pun dirangkai di bawah. Panjangnya 267 meter. Lebarnya 245 meter. Beratnya itu tadi: 3.900 ton.

Bentangan atap itu begitu lebarnya. Kerangka utamanya dari pipa-pipa khusus: belum diproduksi di Indonesia. Masih harus diimpor dari Tiongkok. Itulah pipa 60 cm. Begitu besarnya dari dekat. Begitu kecilnya kalau dilihat dari atas rumput lapangan.

Pipa-pipa selebihnya, yang lebih kecil, semuanya produksi dalam negeri.

Setelah kerangka atap selesai dibuat, diikatlah di 8 pinggirnya. Setiap tempat diikat dengan dua tali. Kalau satu putus masih ada yang menahan. Tali 16 utas itu ditarik ke 8 puncak tiang utama. Satu tiap kebagian 2 tali.

Tanggal 10 Juni 2021, mulailah dilakukan penarikan slink itu. Semua jantung berdegub. Pengawas di 8 tiang sangat tegang. Sensor yang memonitor pergerakan di ujung tiang itu bekerja.

“Satu hari itu kami hanya mengangkat setinggi 1 meter,” ujar Ir Iwan Takwin, direktur proyek dari Wika. Iwan lulusan UGM. Asal Makassar.

Itu sekaligus sebagai testing apakah keseluruhan atap terangkat dengan serentak. Juga: apakah tidak ada sambungan kerangka yang bermasalah. Bayangkan benda rangkaian selebar 267 x 245 meter diangkat bersama.

Ketika baru diangkat 1 meter itu semua bagian diperiksa. Termasuk tumpuan yang ada di setiap puncak tiang utama.

Setelah satu malam dibiarkan terangkat di ketinggian 1 meter –kalau toh jatuh hanya 1 meter– keesokan harinya dinaikkan lagi. Sangat pelan. Setiap naik 1 meter diperlukan waktu 2 jam. Padahal kerangka atap itu harus naik setinggi 70 meter.

Di hari ke 7 kerangka itu berhasil menumpang di puncak 8 tiang utama. Sekaligus bisa menumpang di 64 tiang lainnya.

Lega.

“Gembiranya seperti telah menjuarai turnamen international, Pak,” ujar Iwan. Hari itu sudah senja. Lampu-lampu sudah mulai menyala.

Saya ke proyek itu kemarin siang. Yakni setelah ikut menyerahkan award untuk Marketer of the Year di MarkPlus, di Kasablanka Jakarta.

Atapnya sudah selesai dipasang. Bukan hanya kerangkanya. Tapi bagian tengah yang bisa dibuka-tutup masih belum. Itu bisa cepat karena terbuat dari membran.

Rumputnya juga sudah selesai pasang. Yakni rumput Boyolali yang dicampur dengan 5 persen rumput sintetis. “Di stadion Liverpool rumput sintetisnya 3 persen,” ujar Iwan.

Tim Iwan sebenarnya diprogramkan untuk studi banding ke stadion baru Manchester City dan Tottenham Hotspur. Tapi ada pandemi. “Pembuat desain stadion Jakarta ini sama dengan yang mendesain dua stadion itu,” ujar Iwan.

Saya sudah ke dua stadion tersebut. Masih baru. Dan keren. “Saya juga sudah ke sana,” ujar Iwan. “Lewat online” tambahnya seraya tertawa.

Tentu saya juga meninjau dalamnya. Termasuk ruang VVIP yang dipasangi kaca anti peluru. Tim keamanan kepresidenan sudah melakukan pengecekan tingkat keandalannya.

Jogging track sekeliling stadion yang di atas atap itu belum selesai. Saya ingin ke sini lagi bulan depan. Ingin tahu seperti apa. Lebarnya saja 3 meter. Panjangnya sekeliling stadion: hampir 2 km.

Membangun stadion ini penuh tantangan. Terutama bagaimana menggusur lebih 600 KK di situ. Yakni mereka yang tinggal di bangunan liar di sepanjang rel kereta api itu.

Mereka sudah pergi. Sudah bersih. Yang 135 KK dibuatkan rumah susun di dekat stadion. Mereka akan bekerja di stadion itu. Sisanya pilih mencari tempat tinggal sendiri-sendiri.

Saat saya di situ sedang dilakukan tes lampu yang menyorot ke lapangan hijau. Juga sedang ada tes sistem suara: saya terhibur. Banyak lagu diputar keras. Termasuk Indonesia Raya dan lagu-lagu Barat.

Tantangan selalu menghasilkan ide baru. Dalam hal teknik ide baru cenderung lebih bisa diterima. Mereka, dari kampus mana pun, bisa berdiskusi dengan bahasa yang sama: bahasa teknik.

Tulisan ini saya persembahan untuk para insinyur di proyek itu. Yang telah membuat literatur hidup untuk siapa pun –khususnya mahasiswa dan dosen di fakultas teknik.(Dahlan Iskan)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Menyambung Sulit

BACA JUGA  Vaksinasi Mahasiswa Lanjut di Tarakan

 

Anak Alay .

ide bagusssss itu , terobosan baru . .. . bravo² gua pagi ini mo nyeplok telor 3 biji . .. . daripada gua ceplok satu²  pakai wajan kecil  , gua pasang wajan guêdé  diatas kompor paling gêdé  trus  gua taroh 3 (tiga) wajan kecil²  diatasnyah buat nyeplok telor nyah . .. .  yééé  . .. .  berhasil  éh  tapi , napa gua kagak ceplok barengan tiga telornyah di wajan gede ajah yah  ,  ahh elo nambahin  cucian gua ajah lo Syam

 

Buzzer NKRI .

Kalau ide saya rasa banyak sekali, masalah apapun itu termasuk green energy, bagus-bagus Tetapi bangsa kita bukan kekurangan pemimpin yg punya banyak ide Bangsa kita kekurangan pemimpin yg mampu merealisasikan ide

 

Edwin Suryanata

Kasihan PLN dibuat kalah2an terus, saya rasa ide untuk PLN wajib membeli listrik dari PLTS sangat berat, apalagi bila dengan meteran exim bagi pelanggan. Mungkin bila pelanggan yang memakai panel surya tidak perlu dapat mengekspor listrik ke PLN tetapi cukup dapat mengubah bila listrik yang dihasilkan panel surya ataupun yg disimpan di baterai tidak cukup, dapat langsung berpindah ke listrik PLN

 

Mohamad Selim

Wash sy Tehran herman bhw Pertamina import LNG dr Jepang. Padahal dari LNG Badak city exports ke Jepang. Kalaupapa ternyata LNG tab diimpor Oleg pertamina, berardi charge LNG exports per MMBTU nyack kemurahan. Terbukti direimpor ke Indonesia dn masih untung. Initially perky dievaluasi secara serious Oleg pemerintah harga LNG kita yg director ke Jepang, China dn Taiwan Serta Korea Selatan. Pertamina perlu LNG utk dijual ke PLN di Muara Karang, Muara Tawar dn Tg Priok PLTU PLN. Kenapa PT tsb tdk ambil LNG dr Tangguh? Pemerintah perlu evaluasi bisnis perdagangan LNG yg merugikan exportir…..

 

wong cilik

Memang sulit pak sekarang jadi petani (padi). Ibu saya juga petani dan keluhannya sama kesulita mendapatkan pupuk. Apalagi yang subsidi. kesulita kedua adalah kurangnya tenaga kerja. karena anak-anak muda sudah malas jadi petani, lebih memilih  kerja di kota, atau sekedar nongkrong saja hehe.

 

Pryadi Satriana

Sekadar mengingatkan, Pak Jokowi: kekayaan alam di bumi Indonesia itu untuk kemakmuran rakyat, bukan utk “peng-peng”, apalagi utk asing, jadi ya jangan jual barubara dg harga murah & kita beli ” green energy ” dg harga mahal. Ojok gelem diplokotho yo, Pak Jokowi. Salam.

 

Pryadi Satriana

Green energy? Lupakan dulu aja deh! Cadangan batubara kita 38,84 miliar ton (data Kementerian ESDM 26 Juli 2021), cukup utk 65 th. Yg penting bs menjual “energi” (dlm bentuk BBM & listrik) yg murah kpd rakyat Indonesia! Ga usah mikirin emisi CO2 & pengaruhnya bagi bumi, mikirin rakyat Indonesia aja dulu. Lha wong pemanasan global itu dampak dari aktifitas industri negara2 maju kok kita yg punya cadangan batubara yg sangat besar mau dibatasi. Jangan mau didikte asing Pak Jokowi, mending dengarin suara rakyat, termasuk para komentator Disway kan rakyat juga. Salam.

 

Ini bentuk energi juga: minyak goreng, yg hargaya sedang melambung tinggi. Gimana spy kembali normal? Yuk kita bareng2 “puasa menggoreng” (kecuali yg jual gorengan & usahanya terkait goreng-menggoreng), rumah tangga biasa yg biasa menggoreng, “puasa menggoreng” sekitar 1-2 minggu, kalau perlu sebulan penuh! Kalo “nggak ada yg beli” harga apa pun akan turun dg sendirinya, mengikuti hukum ekonomi “demand & supply”. Kita coba yuk … . Salam.

 

Ahmad Zuhri

Udah beberapa bulan ini saya menyalakan mesin cuci malam hari, karena sesuatu hal kadang tidak bisa mencuci siang hari.. tapi biasanya beberapa lampu tak matikan dulu biar tidak terlalu menambah beban puncak PLN.. Lampu udah pakai LED semua, hemat dan awet kok.. Melihat beban utang PLN dan mengurangi beban puncak dengan ini sebisa mungkin tidak akan mencuci lagi di malam hari.. #Save PLN

 

Tunk BM

Pengeruk batubara yang gak mau jual ke pembangkit PLN dengan DMO mending langsung tegas bekukan saja ijin konsesinya, larangan ekspor gak begitu ngaruh, bisa saja batubara dijual ke perusahaan yang sudah menuhi quota DMO untuk diekspor. Masalahnya, pemerintah opowani atau mungkinkah peng-peng batubara yang menguasai regulasi batubar ?.

 

Aryo Mbediun

Contoh good campaign itu helmisasi. Dulu kemana-mana tak berhelm lalu ada sosialisasi akhirnya pakai helm saat berkendara roda 2

 

Contoh lagi, wajib belajar 9 tahun. Dari SD saja jadi SMP dah menjadi standard. Itu product budaya. So far, go green cuocok jd campaign diknas, mendagri dan babinsa.

 

Contoh terakhir. Wes ke-3 soalnya. Campaign setelah subuh buka Disway agar melek literasi, itu budaya Kansas sekarang. So far it good for netizen to grow and respect. Tapi mohon ingat, good campaign as long as gratisan. #peace

 

Fendy Primadona

Saya punya ide menarik tentang energi surya yang kalo siang hari bisa disimpan energinya tanpa menggunakan baterai.  Idenya cukup sederhana yaitu mengalirkan energi surya ke pompa air yang ada di plta untuk memompa air kembali ke atas, sehingga debit air tetap besar. Perlu dikaji, tapi mungkin hanya efektif di musim kemarau

 

Amat

Ga sanggup mikirin masalah PLN, apalagi masalah negara. Mikirin kata “Terserah” dari istri aja pusing ga tau maksudnya. “Mau makan di mana? “ “Terserah” “Mau makan apa?” “Terserah” “Aku harus gimana? “Terserah” Aku kudu piye maneh, kabeh-kabeh salah.

 

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: